Momen emosional tersaji di partai puncak Piala Dunia saat remaja ajaib Spanyol, Lamine Yamal, memeluk Lionel Messi yang meneteskan air mata setelah peluit panjang berbunyi. Pemandangan di New York New Jersey Stadium Amerika Serikat tersebut terasa sangat simbolis, menandai sebuah proses estafet atau peralihan generasi sepak bola dunia dari sang legenda kepada sang penerus.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan jalannya laga, Lionel Messi yang kini menginjak usia 39 tahun menatap lama ke arah ribuan suporter Argentina yang memadati stadion. Mereka terus menyanyikan namanya dalam apa yang kemungkinan besar menjadi penampilan terakhir sang megabintang di panggung terbesar sepak bola dunia tersebut. Di tengah sorotan kamera global, Lamine Yamal datang menghampiri untuk memberikan penghiburan sebelum keduanya berpelukan erat.
Dari pantauan redaksi, momen ini memicu nostalgia luar biasa bagi para pencinta sepak bola. Pemandangan bertemunya nomor punggung 10 Barcelona saat ini dan pemilik nomor 10 paling legendaris dalam sejarah klub Catalan tersebut menjadi kontras yang indah. Hal ini mengingatkan publik pada foto viral tahun 2007, saat Messi berusia 20 tahun memandikan Lamine Yamal yang masih bayi berusia enam bulan untuk kalender amal.
Kini bayi kecil itu telah tumbuh menjadi pria dewasa, di saat Lionel Messi tampaknya berada di penghujung perjalanan Piala Dunianya. Menurut catatan statistik, Lamine Yamal yang berusia dua dekade lebih muda baru saja menyempurnakan karier internasionalnya. Ia berhasil mengangkat trofi Piala Dunia hanya dua tahun setelah memenangkan Euro ketika Spanyol menumbangkan Inggris.
Meski sempat datang ke turnamen dengan kekhawatiran cedera hamstring, Lamine Yamal justru menyudahi kompetisi sebagai pemain termuda dalam sejarah, yakni 19 tahun enam hari, yang mampu mengawinkan gelar Piala Dunia dan Euro. Penampilan impresifnya menjadi pembeda nyata dalam laga final yang berjalan ketat ini.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan perbedaan kontras strategi kedua tim di lapangan. Pengaruh besar Lamine Yamal mampu dimaksimalkan dengan baik oleh taktik murni yang diperagakan rekan-rekan setimnya di Spanyol. Sebaliknya, Lionel Messi seolah dikhianati oleh pendekatan provokatif rekan-rekannya di Argentina yang gagal membuahkan hasil hingga akhir laga.