Badan sepak bola dunia, FIFA, kini terancam menghadapi gelombang banding dari berbagai negara peserta Piala Dunia. Langkah ini merupakan imbas dari keputusan kontroversial mereka yang menangguhkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Akibat penangguhan tersebut, Balogun dipastikan bebas bermain membela negaranya dalam laga krusial babak gugur melawan Belgia.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan kronologi kejadian, Balogun sebelumnya diusir keluar lapangan saat Amerika Serikat menang 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar karena dinilai menginjak pergelangan kaki Tarik Muharemovic setelah peninjauan VAR. Kartu merah langsung tersebut seharusnya membawa sanksi otomatis larangan bertanding satu laga. Namun, FIFA kemudian merilis pernyataan resmi bahwa implementasi hukuman tersebut ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun dengan bersandar pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.
Dari pantauan redaksi, keputusan ini disinyalir kuat terjadi setelah adanya intervensi politik, di mana Donald Trump secara pribadi menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau ulang kartu merah tersebut. Melalui media sosial Truth Social, Trump bahkan menyampaikan apresiasinya dengan menulis, "Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar, dan membalikkan ketidakadilan yang besar!"
Menurut laporan dari L'Equipe, keputusan FIFA ini langsung membuka kotak pandora. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dikabarkan langsung bergerak cepat meminta FIFA membatalkan kartu kuning yang diterima Michael Olise saat Prancis menang 1-0 atas Paraguay. Pihak Prancis meyakini bahwa pemain sayap Bayern Munich tersebut sama sekali tidak melakukan kontak fisik dengan gelandang Paraguay, Matias Galarza. Jika permohonan ini dikabulkan, hal tersebut akan menjadi preseden baru yang berakar dari kasus Balogun.
Sementara itu, pihak lawan yang terdampak langsung, yakni Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA), mengaku sangat terkejut. Mereka merujuk pada Pasal 66.4 dari kode disiplin FIFA sendiri yang menegaskan bahwa kartu merah secara otomatis menghasilkan larangan bermain di laga berikutnya. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, bahkan melontarkan sindiran tajam dengan mengatakan, "Saya tidak tahu bahwa di Piala Dunia, tanggal 5 Juli sebenarnya adalah tanggal 1 April. Ini seperti April Mop."
Dari pengamatan tim redaksi di Estadio Azteca, manajer tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, juga mempertanyakan kredibilitas keputusan FIFA setelah pemainnya, Jarell Quansah, mendapat kartu merah saat melawan Meksiko. Tuchel mempertanyakan dasar hukum dan batas dari keputusan penangguhan tersebut. "Siapa yang membatalkan keputusan ini lalu kapan? Dan atas dasar apa? Seberapa jauh hal ini akan berjalan sekarang? Ini aneh bagi saya. Di mana ini dimulai dan di mana ini akan berakhir?" ujar Tuchel kepada wartawan.